Belajar dari Keteguhan Sosok Sarah

*Resensi ini dimuat di harian Kabar Madura, edisi Jumat 28 September 2018, halaman 6

Judul : Sarah, Perempuan Penggenggam Cinta
Penulis : Sinta Yudisia
Penerbit : Gema Insani
Cetakan : I, Oktober 2017
Tebal : xii + 232 halaman
ISBN : 978-602-250-456-6
Peresensi : Tri Jazilatul Khasanah*

Perempuan memiliki pesona tersembunyi di balik diri dan hati yang mampu meluluhkan kaum adam. Terkadang pesona-pesona yang terpancar bisa menjadi bumerang jika disalahgunakan. Lantas bagaimana kita sebagai perempuan menjaganya?

Sinta Yudisia penulis buku “Sarah Penggenggam Cinta” telah memaparkan tentang salah satu sosok perempuan idaman, yaitu Sarah. Sarah adalah istri Nabi Ibrahim yang turut berkontribusi dalam dakwah. Mempelajari sejarah Sarah berarti kita akan mencoba memahami sumber kekuatan seorang perempuan, seorang istri, dan seorang ibu.

Sebuah gambaran seorang perempuan dalam menghadapi tantangan kehidupan dari masa ke masa. Ketangguhan dalam menghadapi kezaliman, kesabaran dalam ujian, dan keistiqomahan dalam memegang teguh iman. Ia hidup berlimpah kekayaan, tetapi juga dipenuhi keadaan serba takhayul, ramalan, pergerakan bintang, bisikan-bisikan setan, serta keyakinan sesat para pemuka agama yang menjilat raja. Gadis itu tetap tumbuh sempurna, cantik, suci, dan siap mengemban amanah berat yang mungkin tak akan sanggup dipikul oleh ribuan, bahkan jutaan perempuan walaupun dipikul bersama-sama (hal 34).

Disisi lain, Sarah memiliki kemuliaan sebagai istri dan ibu sekaligus. Kemuliaan di sini bukan bermakna garis keturunan bangsawan atau kekayaan, melainkan lebih diartikan sebagai perempuan-perempuan yang lebih banyak beribadah dibandingkan manusia pada umumnya, serta perempuan-perempuan yang mengalami ujian yang sangat dahsyat dalam kehidupan dan berhasil melaluinya dalam ketabahan dan ketangguhan mereka (hal 45).

Kedudukan Sarah yang mulia di tengah kaumnya tidak membuatnya tinggi hati dan merendahkan suaminya, Ibrahim a.s. (hal 57). Sarah sudah mengabdikan dirinya sebagai seorang istri. Pengorbanan dan cinta telah ia ikhlaskan sepenuh hati untuk berjuang di jalan Allah bersama suaminya. Bahkan, ketika Sarah diuji dengan kemandulan, ia tetap memikirkan penerus dalam perjuangan dakwah suaminya. Akhirnya, ia rela untuk dimadu demi kemaslahatan umat. Sarah memilih sendiri wanita yang akan dijadikan istri untuk suaminya, Hajar seorang hamba sahaya hadiah dari Raja Firaun.

Dari rahim Hajar tumbuhlah benih calon penerus Ibrahim a.s. Hal tersebut membuat Sarah bahagia meski terkadang kecemburuan mendera, tetapi ia tak pernah menuntut ketidakadilan kepada Allah. Ia tetap ikhlas menerima jalan takdirnya. Sarah percaya bahwa Tuhannya tahu yang terbaik untuknya. Hingga akhirnya ketika usia telah menginjak 90 tahun, Sarah mendapat kabar gembira dari tiga malaikat kiriman Allah. Ia akan mengandung dari rahimnya sendiri. Kemudian lahirlah seorang penerus utusan Allah hingga turun ke anak cucunya kelak.

Sarah menjaga benih dalam rahimnya sampai melahirkan dalam perjuangan hidup dan mati, mengingat dirinya tak lagi muda. Ia juga menyusui, membesarkan, dan mendidik sepenuh hati. Begitulah pengorbanan dan cinta seorang ibu yang wajib ada di setiap diri seorang perempuan.

Tidak ada keluh kesah yang mengalir dari lisan Sarah. Kesabaran yang begitu mengagumkan. Apalagi Ibrahim dan Sarah harus menyusun strategi demi jalan dakwah. Menghadapi kezaliman Firaun dengan cara menyamar bukan sebagai pasangan suami istri. Firaun jatuh hati dengan nafsu birahinya kepada Sarah, akan pancaran kecantikan bagai matahari yang menawan. Tetapi, Sarah dengan ketangguhan iman, selalu melantunkan doa kepada Allah agar menjaga kesuciannya, hingga Firaun tidak berani menyentuhnya.

Buku ini bisa menjadi referensi untuk kaum perempuan yang sedang kehilangan jati diri, agar kuat menghadapi kehidupan penuh tantangan. Di dalamnya telah dipetakan tiap bab dan isinya. Pembaca akan tersugesti dalam memahami setiap perjuangan sosok teladan Sarah yang menggetarkan jiwa.

Bagi perempuan, menjaga kesucian adalah martabat. Dan bagi laki-laki, menghargai perempuan adalah kehormatan. Begitulah seharusnya seorang perempuan, dihargai dan dimuliakan. Perkuatlah iman untuk membentengi diri dari kejahatan. Berjuang dalam kesabaran dan ketangguhan, serta doa-doa kekuatan. (*)

*) pegiat literasi dan pecinta buku