Dari Ibnu Najjar bahwa Ubadah bin Shamit r.a. berkata, “Rasulullah saw., ‘Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang berkah. Di dalamnya senantiasa Allah liputi dengan kebaikan. Pada bulan ini Allah senantiasa menurunkan rahmat-Nya, menghapuskan segala dosa, dan mengabulkan segala doa. Pada bulan yang mulia ini, Allah senantiasa melihat saling berlomba-lombanya kalian (dalam kebaikan). Para malaikat pun senantiasa membangggakan kalian. Oleh karena itu, perlihatkanlah kepada Allah SWT kebaikan diri kalian. Sesungguhnya orang yang merugi dan sengsara adalah orang yang dirinya terhalang dari rahmat Allah Azza wa Jalla di bulan ini.’” (HR ath-Thabrani)
Ramadhan adalah bulan suci yang dinanti-natikan oleh umat Islam dan sudah seyogianya kedatangannya disambut dengan jiwa serta hati yang berbunga-bunga. Ramadhan adalah tamu yang agung nan mulia yang akan memasuki setiap rumah dan kediaman umat Islam. Oleh karena itu, tidaklah patut menyambutnya dengan sikap yang biasa-biasa saja. Hendaknya Ramadhan disambut dengan ghirah dan semangat peningkatan iman dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Bahkan, uswah hasanah kita, Rasulullah saw., pun melakukan Tarhib Ramadhan. Beliau menyambut bulan suci ini dengan menyampaikan tausiyah, taujih, dan tadzkirah (nasihat, arahan, dan pengingatan) kepada para sahabat berkenaan dengan bulan Ramadhan. Hal ini sebagaimana tergambar dalam dua hadits berikut ini.
Mengapa bulan perlu disambut? Sebab, bulan ini penuh dengan berbagai fadhilah dan keistimewaan. Di antaranya:
Pertama: Bulan Penuh Berkah
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan, baik keberkahan dunia maupun akhirat. Lalu apa sesungguhnya yang dimaksud dengan keberkahan? Sebagian ulama mendefinisikan keberkahan dengan, “Bertambahnya kebaikan. Baik kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat.”
Dari pengertian berkah di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang yang memperoleh keberkahan dalam hidupnya adalah orang yang mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Kebaikan dunia dengan kemudahan rezeki dan kesehatan jasmani serta kebaikan akhirat dengan akhlak dan amal ibadah kepada Allah SWT.
Demikian pula seseorang yang memperoleh keberkahan pada bulan Ramadhan adalah orang yang kebaikan dunia akhiratnya bertambah dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Keberkahan bulan Ramadhan akan semakin terasa bila selama bulan Ramadhan diisi dengan kegiatan tadabbur (renungan dan pendalaman) Al-Qur’an secara mendalam. Dengan begitu pesan dan kandungannya dapat dimengerti dan dipahami dengan baik yang pada gilirannya akan melahirkan sebuah kesadaran yang semakin mempertebal iman dan membuahkan amal sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an. Intinya, Al-Qur’an akan memberikan keberkahan jika ayat-ayatnya ditadabburkan dengan baik.
Kedua : Bulan Rahmat dan Penghapus dosa
Allah menurunkan rahmat-Nya yang berlimpah di bulan Ramadhan. Rahmat dan kasih sayang Allah merupakan anugerah yang paling besar dan bernilai bagi seorang hamba. Ia lebih bernilai dari ganjaran pahala atas amal dan perbuatan karena amal perbuatan semata tidak dapat menjamin seseorang masuk surga bila tidak dibarengi dengan rahmat Allah SWT. Sebagaimana hadits Rasulullah saw. berikut.
Abu Hurairah r.a. berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Amal seseorang tidak akan memasukkannya ke surga.’ Para sahabat bertanya, ‘Apakah engkau juga tidak dapat masuk surga hanya karena amal?’ ‘Begitu pula aku, aku tidak akan masuk surga semata karena amalku, kecuali Allah meliputiku dengan anugerah dan rahmat-Nya.’” (HR Bukhari)
Ketiga : Bulan Mustajab (Terkabulnya Doa)
Allah SWT menjanjikan terkabulnya doa di bulan yang mulia ini. Hubungan seorang hamba kepada Allah SWT di bulan ini tengah mencapai tingkat kualitas dan kuantitas yang lebih berarti bila dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Puasa yang setiap hari dijalankan, tilawah qur’an yang setiap hari dilantunkan, dan tarawih yang setiap malam dilaksanakan, akan menambah kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT. Kedekatan ini dengan sendirinya akan memudahkan terkabulnya segala doa di bulan yang penuh berkah ini. Rasulullah saw. bersabda,
“Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa, tidak akan ditolak doanya pada saat berbuka.” (HR Thabrani)
Rasulullah saw. telah membuktikan terkabulnya doa di bulan Ramadhan, yaitu pada saat peperangan Badar. Ketika itu 313 kaum Muslimin harus menghadapi 1.000 orang Musyrikin Quraisy. Tentu jumlah tersebut tidak sebanding dan secara teori umat Islam akan sulit mengalahkan orang-orang kafir Quraisy. Mungkin malah dengan mudah umat Islam akan dihabisi oleh mereka, mengingat persenjatan dan logistik mereka lebih banyak dibandingkan persenjataan dan logistik yang dibawa oleh umat Islam. Namun karena peperangan tersebut terjadi pada bulan Ramadhan, Rasulullah tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT. Beliau pun mengangkat kedua belah tangannya, berdoa, beristighatsah, dan berkata, “Ya Allah! Jika pada hari ini engkau hancurkan pasukan ini (pasukan umat Islam yang hanya berjumlah 313 orang) maka tidak ada orang yang akan beribadah kepada-Mu lagi.”
Rasulullah saw. berdoa hingga bergetar kedua tangannya. Tampak kedua ketiaknya yang putih dan jatuh sorban yang ada di atas punggungnya. Dengan berkahnya bulan Ramadhan, doa dan istighatsah yang dipanjatkan oleh Rasulullah saw. akhirnya dikabulkan oleh Allah SWT saat itu juga dengan mengirimkan para malaikat yang turut serta ke medan perang, memberikan bantuan, dan pertolongan kepada beliau dan umatnya.
Keempat : Bulan Tanafus (Berlomba-lomba dalam Kebaikan)
Allah SWT mengingatkan hamba-hambanya untuk senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan. Bulan Ramadhan adalah saat yang tepat untuk saling berlomba dalam kebaikan dengan memperbanyak ibadah, membaca dan tadarus Al-Qur’an, infak dan sedekah, serta bertausiah dalam kebenaran, kasih sayang, dan kesabaran. Allah SWT akan menjadi saksi terhadap perlombaan mulia ini dan malaikat akan membanggakan setiap peserta lomba.
Lalu siapakah yang menjadi pemenang lomba yang sangat bergengsi di sisi Allah ini? Pemenangnya adalah orang yang di akhir hidupnya penuh dengan kebaikan atau meraih predikat husnul khatimah, yaitu akhir kehidupan yang baik bak wewangian minyak kasturi yang harum semerbak.
Ramadhan adalah saat yang tepat untuk memulai perlombaan ini. Namun yang sangat disayangkan, khususnya di zaman sekarang ini, hal yang muncul adalah fenomena berlomba-lomba dalam kefasikan dan kemaksiatan. Shalat, puasa, zakat, umrah, dan hajinya hanyalah bagian kecil dari amalannya. Selebihnya adalah pernak-pernik kemaksiatan dan kefasikan, seperti pergaulan bebas dengan lawan jenis yang bukan muhrim, pakaian yang memperlihatkan sebagian kecil atau sebagian besar aurat, dan keengganan untuk mengenakan jilbab.
Padahal, bulan mulia ini adalah kesempatan yang sangat berharga untuk memperlihatkan kepada Allah SWT segala kebaikan yang kita lakukan. Hendaknya kita perlihatkan kepada Allah SWT keimanan dan takwa kita, tobat dan kesadaran kita dari segala dosa, serta kehidupan Islami. Baik itu dalam berpakaian, pendidikan anak, dan pergaulan sehari-hari yang mulai dicanangkan sejak Ramadhan tahun ini. Sebagaimana pesan Rasulullah saw., “Perlihatkanlah kepada Allah SWT kebaikan diri kalian!”
Di antara doa dan munajat yang dianjurkan untuk diperbanyak dan diulang-ulang pada bulan suci Ramadhan adalah sebagai berikut.
“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Aku memohon ampun kepada Allah! Aku memohon kepada-Mu surga dan aku berlindung kepada-Mu dari kemurkaan-Mu dan siksa neraka. Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan senantiasa mencintai pengampunan, karena itu ampunilah aku!”
Dikutip dari buku TARHIB RAMADHAN : 30 Pesan di Bulan Ramadhan
Karya: M. Sa’id
|