" Memenuhi lemari bukumu dengan buku-buku adalah jauh lebih baik daripada memenuhi tasmu dengan uang (Arif Bijak) "
Rabu, 8 September 2010
  
  Home >> 11  
 .:  Info Produk
 .:  Info Insani





Surat An Nashr

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (an-Nashr: 1—3)

Pada permulaan ayat pertama terdapat isyarat tertentu untuk membangun tashawur khusus, tentang hakikat peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam semesta ini, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini, juga tentang peranan Rasulullah saw. dan peranan kaum mu’minin dalam dakwah ini, dan batasan mereka yang menisbatkan diri dalam urusan ini…. Isyarat ini tercermin dalam firman Allah, “Apabila telah datang pertolongan Allah …”, maka itu adalah pertolongan Allah yang didatangkan oleh-Nya pada waktu yang ditentukan-Nya, dalam bentuk yang dikehendaki-Nya, untuk tujuan yang digariskan-Nya. Dan Nabi dan para sahabatnya tidak memiliki kewenangan apa pun dalam hal ini, tangan mereka tidak ikut menentukan, usaha mereka tidak turut memastikan, diri mereka tidak ikut andil, jiwa mereka tidak turut ambil bagian. Semua itu hanya urusan Allah yang diwujudkan-Nya dengan menggunakan mereka atau tanpa menggunakan mereka. Dan cukuplah bagi mereka kalau Allah memberlakukan peristiwa ini melalui tangan mereka, atau menjadikan mereka sebagai penjaga, dan menjadikan mereka sebagai pemegang amanat…. Hanya itu andil mereka di dalam masalah pertolongan, pembebasan kota Mekah, dan masuknya manusia ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong.

Didasarkan atas isyarat ini dan tashawur khusus yang dibangunnya tentang hakikat urusan ini, maka jelaslah batas peranan Rasulullah saw. dan orang-orang yang bersama beliau dengan pemeberian kehormatan dari Allah kepada mereka dan kemurahan-Nya kepada mereka dengan merealisasikan pertolongan-Nya lewat tangan mereka. Urusan Rasulullah saw. dan orang-orang yang bersama beliau adalah menghadapkan diri kepada Allah dengan bertasbih, bertahmid, dan beristighfar pada saat mendapat kemenangan.

Bertasbih dan bertahmid atas karunia Allah yang telah menjadikan mereka sebagai pemegang amanat untuk melaksanakan dakwah-Nya dan menjaga agama-Nya, dan atas rahmat-Nya memberikan kemenangan agama-Nya untuk kepentingan seluruh umat manusia, juga pemberian-Nya kemenangan atas Rasul-Nya dan atas masuk Islamnya manusia dengan berbondong-bondong ke dalam kebaikan yang melimpah dan menyeluruh ini, sesudah mereka berada dalam kebutaan, kesesatan, dan kerugian.

Dan beristighfar, memohon ampun kepada Allah, karena banyaknya perasaan yang campur aduk dalam jiwa, yang rumit dan halus jalan masuknya. Beristighfar dari rasa bangga dan sombong yang kadang-kadang mengiringi kalbu atau menyelinap ke dalam hati ketika dimabuk kemenangan setelah melakukan perjuangan yang panjang, dan bersuka ria atas keberhasilannya setelah bersusah payang demikian lama. Ini adalah pintu masuk yang sulit dijaga dalam hati manusia. Oleh karena itu, patutlah kita beristighfar, memohon ampun kepada Tuhan.

Inilah ufuk yang cemerlang dan mulia, yang dibisikkan oleh Al-Qur’an ke dalam jiwa manusia agar memperhatikannya dan mendaki tangganya, dengan mengikuti jalurnya yang muli dan baik. Ufuk, yang di sana manusia menjadi besar, karena dia meredakan kesombongannya, dan ruhnya mengepakkan sayapnya dengan bebas karena ia tunduk kepada Allah.

Inilah adab yang menjadi ciri kenabian selamanya. Allah menginginkan manusia naik ke ufuknya, atau melihat ufuk ini selamanya.

Inilah adab Yusuf a.s., pada saat ia mendapatkan segala sesuatu, dan mimpinya menjadi kenyataan,

“Dan ia menaikkan kedua ibu-bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf, ‘Wahai ayahku inilah ta`bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah setan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.’” (Yusuf: 100)

Pada saat itu, Yusuf a.s. melepaskan dirinya dari keceriaan, kesenangan, kegembiraan, dan keberbinaran untuk menghadap kepada Tuhannya dengan melakukan tasbih sebagai orang yang bersyukur dan berdzikir. Ia curahkan segenap doanya kepada-Nya, padahal ketika itu ia sedang berada di puncak kekuasaan dan dalam kegembiraan karena mimpinya menjadi kenyataan,

“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta`bir mimpi. (Ya Tuhan). Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (Yusuf: 101)

Di sini, tersembunyilah jabatan dan kekuasaan, dan tersembunyilah kegembiraan saat bertemu dan berkumpul dengan keluarga dan saudara-saudara, dan tampaklah pemandangan terakhir yaitu pemandangan seorang manusia seorang diri memohon kepada Tuhannya supaya Dia menjaga keislamannya hingga Dia mewafatkannya, dan mempertemukannya dengan orang-orang yang saleh di sisi-Nya, dengan karunia-Nya dan kemurahan-Nya….

Demikian pula adab Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dalam seluruh sisi kehidupan beliau, dan dalam menghadapi kemenangan dan pembebasan kota Mekah yang merupakan tanda sudah dekatnya ajal beliau… Beliau menundukkan diri kepada Allah dengan bersyukur di atas punggung unta beliau dan memasuki kota Mekah dalam keadaan seperti itu. Kota Mekah yang penduduknya telah menyakiti beliau, mengusir beliau, memerangi beliau, dan menghalang-halangi jalan dakwah beliau dengan sangat sengit… Akan tetapi ketika datang pertolongan Allah dan kemenangan, beliau melupakan kegembiraan karena kemenangan ini, dan beliau menundukkan diri dengan beryukur, menyucikan Allah, memuji-Nya, dan memohon ampun kepada-Nya sebagaimana diajarkan oleh Tuhannya, dan setelah itu beliau semakin memperbanyak tasbih, tahmid, dan istighfar sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat. Dan demikianlah sunah beliau kepada sahabat-sahabat beliau sepeninggal beliau, mudah-mudahan Allah meridhai mereka semuanya.

 

.: ARTIKEL :.

       
.: © 2003- Gema Insani. Hak cipta dilindungi oleh undang-undang :.
www.gemainsani.co.id